Lampung – Toyota Bakal Bangun Kabar menggembirakan datang dari dunia industri energi hijau nasional. Perusahaan otomotif raksasa asal Jepang, Toyota Motor Corporation, dikabarkan akan membangun pabrik bioetanol di Provinsi Lampung dengan nilai investasi mencapai Rp 2,5 triliun. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen Toyota mendukung program energi terbarukan dan transisi menuju ekonomi hijau di Indonesia.

Baca Juga : Penyebab Harimau Sumatera di Lampung Mati
Proyek ini akan menjadi salah satu investasi terbesar di sektor bioenergi nasional dalam beberapa tahun terakhir. Pabrik tersebut direncanakan berdiri di kawasan industri Lampung Tengah, dengan target mulai konstruksi pada awal tahun 2026 dan beroperasi penuh pada akhir 2027.
Mendorong Energi Hijau dan Kemandirian Nasional
Menurut pernyataan resmi Toyota Indonesia, pembangunan pabrik ini merupakan langkah strategis untuk mendukung kebijakan pemerintah dalam mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil serta menurunkan emisi karbon di sektor transportasi.
Bioetanol yang diproduksi dari bahan baku tebu, singkong, dan biomassa pertanian lokal akan menjadi bahan campuran utama dalam program bahan bakar ramah lingkungan (biofuel) di Indonesia.
“Indonesia memiliki potensi besar sebagai produsen bioetanol, terutama karena ketersediaan bahan baku pertanian yang melimpah. Melalui investasi ini, kami ingin memperkuat rantai pasok energi hijau dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal,” ujar Hiroshi Nakamura, Presiden Direktur Toyota Motor Asia Pacific, dalam siaran persnya, Senin (10/11/2025).
Pabrik Bioetanol Terbesar Toyota di Asia Tenggara
Pabrik yang akan dibangun di Lampung ini diklaim bakal menjadi fasilitas produksi bioetanol terbesar Toyota di kawasan Asia Tenggara. Dengan kapasitas produksi mencapai 50 juta liter per tahun, pabrik ini akan memasok kebutuhan bahan bakar campuran E20 (20% etanol dan 80% bensin) yang rencananya akan diterapkan secara bertahap di Indonesia mulai 2027.
Selain itu, pabrik ini akan dilengkapi dengan teknologi carbon capture dan waste-to-energy system, yang memungkinkan limbah produksi diubah menjadi sumber energi tambahan. Dengan begitu, pabrik ini diharapkan mampu beroperasi dengan prinsip nol emisi.
